Tuesday, May 23, 2006

MASJID MENARA KUDUS KESINAMBUNGAN ARSITEKTUR JAWA-HINDU DAN ISLAM

Oleh: Bambang Setia Budi


SEBAGAI salah satu tempat awal penyebaran Islam di Pulau Jawa, Kota Kudus banyak menyimpan peninggalan sejarah Islam. Salah satu yang terpenting adalah Masjid Menara Kudus yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Masjid tersebut telah menjadi salah satu tempat bersejarah yang penting bagi umat Islam di Jawa.

MASJID yang menurut sejarah didirikan pada tahun 956 Hijriah atau 1549 Masehi ini memiliki nama asli Masjid Al-Aqsa. Konon, Ja’far Sodiq atau yang kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus pernah membawa kenangan berupa sebuah batu dari Baitul Maqdis di Palestina untuk batu pertama pendirian masjid yang diberi nama masjid Al-Aqsa. Masjid tersebut kemudian lebih populer dengan sebutan masjid Menara Kudus, merujuk pada menara candi di sisi timur bangunan utama.

Yang paling monumental dari bangunan masjid ini adalah menara berbentuk candi bercorak Hindu Majapahit, bukan pada ukurannya yang besar saja, tetapi juga keunikan bentuknya yang tak mudah terlupakan. Bentuk ini tidak akan kita temui kemiripannya dengan berbagai menara masjid di seluruh dunia.

Keberadaannya yang tanpa-padanan karena bentuk arsitekturalnya yang sangat khas untuk sebuah menara masjid itulah yang menjadikannya begitu mempesona. Dengan demikian bisa disebut menara masjid ini mendekati kualitas genius locy.



Bercorak Candi – Menara Masjid Kudus merupakan bangunan menara masjid paling unik di Kota Kudus karena bercorak Candi Hindu Majapahit. (Fotografer: Indra Yudha).



Bangunan menara berketinggian 18 meter dan berukuran sekitar 100 m persegi pada bagian dasar ini secara kuat memperlihatkan sistem, bentuk, dan elemen bangunan Jawa-Hindu. Hal ini bisa dilihat dari kaki dan badan menara yang dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen, namun konon dengan dengan digosok-gosok hingga lengket serta secara khusus adanya selasar yang biasa disebut pradaksinapatta pada kaki menara yang sering ditemukan pada bangunan candi.

Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat soko guru yang menopang dua tumpuk atap tajuk. Sedangkan di bagian puncak atap tajuk terdapat semacam mustoko (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu.

***

GH Pijper dalam The Minaret in Java (India Antiqua, Leiden, 1947) mengaitkan struktur bangunan Hindu Jawa pada menara tersebut, sebagaimana pernah diungkap sarjana JFG Brumund pada tahun 1868. Dikemukakan pula bahwa menara itu mengingatkan pada menara kul-kul di Bali. Adanya kesamaan dengan menara kul-kul Bali ini kembali ditegaskan AJ Bernet Kempers dalam bukunya Ancient Indonesia Art (1953).

Hampir semua pakar dan peneliti dari dalam negeri juga sepakat menara ini jelas bercorak bangunan candi atau menara kul-kul Bali. Ada yang menghubungkan bentuk menara itu dengan Candi Jago, terutama jika dilihat dari arsitektur dan kesamaan ragam hias tumpalnya seperti yang dilakukan Sutjipto Wijosuparto (1961). Ada pula yang menyamakannya dengan candi di Jawa Timur oleh Soekmono (1973), Candi Singosari oleh Syafwandi (1985), atau kul-kul Bali oleh Parmono Atmadi (1987).

Namun, Pijper mengungkapkan menara Masjid Kudus awalnya bukanlah asli milik masjid, melainkan bentuk bangunan candi dari zaman Jawa-Hindu yang digunakan dan disesuaikan kegunaannya sebagai tempat azan.

Lain halnya dengan ahli purbakala NJ Krom yang menyebutkan menara Masjid Kudus bukanlah bangunan Candi Jawa-Hindu. Menurut dia, bangunan itu memang memiliki corak candi, tetapi ia dibangun pada masa Islam dan sengaja diperuntukkan sebagai menara azan. Mungkin saja menara dibangun para tukang dan ahli bangunan Hindu sehingga bentuk bangunannya dipengaruhi secara kuat corak arsitektur Hindu (Krom, 1923: 294-295).

Pendapat Krom ini boleh jadi ada benarnya jika diamati detail ornamen bangunan menara yang hampir tidak ditemukan ragam hias berupa makhluk hidup. Artinya boleh jadi bangunan itu sudah disesuaikan dengan agama Islam yang cenderung menghindari adanya penggambaran makhluk hidup. Jika menara itu dibangun jauh sebelum masa Islam/sebelum masjid dibangun, tentu lebih logis jika ragam hias makhluk hidup bisa dengan mudah ditemukan seperti pada gapura Masjid Sendang Duwur di Jawa Timur.











Detail Menara
– Permukaan bidang menara yang tampak menjadi seni tersendiri dari penataan susunan material bata ekspos. (Fotografer: Indra Yudha)



Usia menara juga merupakan keunikan tersendiri, seperti diungkapkan Pijper bahwa Menara Kudus merupakan menara masjid tertua di Jawa. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada yang dapat memberi keterangan kapan waktu dibangunnya secara jelas.

Jika didasarkan inskripsi berbentuk Candrasengkala dalam tulisan Jawa di sebuah balok bagian atap menara yang berbunyi "Gapura rusak ewahing jagad", arkeolog Soetjipto Wirjosuparto membacanya sebagai tahun Jawa 1 (jagad), 6 (ewah), 0 (rusak), 9 (gapura), maka berbunyi 1609 tahun Jawa atau 1685 Masehi.

Wirjosuparto memperkirakan, menara masjid dibangun sebelum tahun 1685 karena keterangan ini menunjukkan rusaknya atap menara yang kemudian diperbaiki dan diperingati dengan inskripsi tersebut. Sementara AJ Bernet Kempers memperkirakan bangunan menara dibangun sekitar awal abad ke-16 tetapi diletakkan dalam tanda kurung yang dibubuhi tanda tanya. Karena tahun itu hanya merupakan perkiraan yang didasarkan atas petunjuk sejarah politik.

***

SELAIN menara, masih banyak elemen unik lainnya yang bisa ditemukan pada kompleks masjid dan makam ini. Jika ditelusuri, terdapat banyak elemen bangunan yang berulang di berbagai tempat. Itulah gerbang yang bentuknya juga menunjukkan kaitan sangat kuat dengan seni bangunan zaman pra-Islam. Gerbang-gerbang itu menandai dan memberi batas makna ruang profan dan sakral. Komposisi tata letaknya sungguh memberikan urutan sangat menarik.

Ada dua jenis gapura di kompleks ini, yakni Kori Agung dan Bentar yang keduanya mirip seperti gapura di Bali. Gapura jenis Kori Agung membentuk suatu gunungan pada bagian atasnya, sementara bentar membentuk laiknya gunungan terbelah. Kedua jenis seperti ini juga terdapat di kompleks Masjid Mantingan atau Masjid Ratu Kalinyamat di pesisir utara Jawa Tengah.

Yang luar biasa dari gerbang ini adalah adanya sepasang gerbang purba berbentuk Kori Agung yang justru terdapat di dalam ruang shalat masjid. Konon, itulah sisa gerbang Masjid Kudus yang asli yang disebut "Lawang Kembar".






Gerbang Kori Agung – Bentuk gerbang jelas mengingatkan gerbang-gerbang bangunan Hindu. Perhatikan sekuensialnya yang berkelok karena terdapat aling-aling yang juga biasa terdapat pada kompleks bangunan Hindu. (Fotografer: Indra Yudha)




Keunikan lain adalah beduk dan kentongan pada pendopo di bagian kepala menara. Peletakan benda-benda seperti itu merupakan tata letak yang tidak lazim di masjid-masjid Jawa tradisional. Karena alat-alat yang biasa ditabuh sebelum dikumandangkan azan itu hampir selalu diletakkan di pendopo masjid sebelah timur. Wajar jika hal ini memperkuat kaitan dengan menara kul-kul Bali karena pada menara kul-kul Bali biasanya tergantung kentongan di bagian kepala menara tepat di bawah atap.

Satu lagi yang tak kalah menarik adalah tempat wudu kuno dari susunan bata merah, dengan lubang pancuran berbentuk kepala arca berjumlah delapan buah. Jumlah ini konon dikaitkan dengan falsafah Buddha, yaitu Asta Sanghika Marga (delapan jalan utama) yang terdiri dari pengetahuan, keputusan, perbuatan, cara hidup, daya, usaha, meditasi, dan komplementasi yang benar.






Pancuran Wudlu Kuno - Lubang pancuran kuno yang berbentuk kepala arca seperti ini terdapat pada tempat wudlu. Bentuk arcanya seringkali dikaitkan dengan kepala sapi yang diberi nama Kerbau Gumarang, karena binatang sapi dulunya diagungkan oleh orang-orang Hindu di Kudus. (Fotografer: Indra Yudha)




Sedangkan bentuk arca seringkali dikaitkan dengan kepala sapi bernama Kerbau Gumarang karena binatang sapi dulunya diagungkan orang Hindu di Kudus. Bahkan hingga sekarang meski mereka telah menjadi Muslim, masih memiliki tradisi menolak penyembelihan sapi yang konon warisan dari sunan kharismatik pencipta gending Mijil dan Maskumambang itu.

****

published @kompas minggu 15 Juni 2003

Monday, May 15, 2006

MENELUSURI MASJID-MASJID DI PRIANGAN TEMPO DOELOE

oleh Bambang Setia Budi


Tempo Doeloe selalu penting untuk ditelusuri kembali karena menjadi referensi bagi sejarah, pendidikan, penelitian, dan kebudayaan. Tempo doeloe juga selalu menarik karena memberi kenangan sejarah tersendiri bagi setiap warga yang pernah mengalami situasi, kondisi maupun peristiwa pada waktu itu.

Seiring dengan itu, penelusuran artefak budaya khususnya seni bangunan/arsitektur di masa lalu dapat memperluas wawasan tentang karakter bentuk dan elemen-elemen bangunan di masa lalu lengkap dengan pengertiannya masing-masing. Dari sini kita bisa mencermati khususnya unsur-unsur lokal yang menjadi ciri dan identitas suatu daerah/wilayah sebagai ungkapan-ungkapan lokalitas.

Perlunya mengenali lokalitas di masa kini nampaknya menjadi semakin penting dan diperlukan di tengah serbuan peradaban global yang menyeragamkan segala sisi dan bentuk kehidupan. Ini dapat menjadi pijakan bagi setiap pengambilan keputusan yang bisa berpengaruh untuk modernitas masa kini dan yang akan datang khususnya di Tatar Priangan.

Berikut ini akan ditelusuri beberapa arsitektur masjid-masjid di Priangan tempo doeloe khususnya pada tahun 1875 baik sepanjang Groote Postweg di wilayah Priangan Barat dan Tengah seperti Cianjur, Bandung, dan Sumedang, hingga Priangan Timur seperti Garut dan Tasikmalaya.

Jika diamati, nampaknya masjid-masjid di Tatar Priangan tempo doeloe memiliki karakteristik yang khas yang membedakannya dengan daerah-daerah lain. Memang sepintas terdapat banyak kemiripan jika dibandingkan dengan masjid-masjid di sepanjang Pulau Jawa, tetapi jika diteliti lebih jauh akan banyak pula ditemukan perbedaan-perbedaan.

Satu karakteristik yang menarik dari atap masjid-masjid di Priangan tempoe doeloe adalah terlihatnya perbedaan pada proporsi atap dibanding atap-atap masjid tradisional yang lain di Pulau Jawa pada umumnya. Pada atap masjid-masjid di Priangan tempo doeloe terlihat selalu nyungcung dengan sudut kemiringan yang sangat tajam sementara bagian bawah tiap tumpukan atap berbelok ke arah horisontal yang pendek dan berubah secara cepat atau seperti mendadak.

Hal ini berbeda dengan atap-atap tumpang yang banyak berkembang di Jawa Tengah baik pesisir maupun pedalaman di mana atap tumpangnya lebih berbentuk piramid/limasan seperti terdapat pada Masjid Agung Demak (1479), Masjid Agung Surakarta (1757), atau Masjid Agung Yogyakarta (1773).

Bentuk `nyungcung` tersebut mengingatkan kepada kita tentang topi karnaval saat masa kecil mengikuti peringatan tujuh belas Agustusan, atau seperti `daun pincuk` untuk wadah makanan-makanan kecil seperti kacang. Unik, lucu, dan menarik, memang. Nampaknya bentuk dan ekspresi atap masjid seperti ini merupakan salah satu ciri dan karakteristik yang khas di alam Pasundan khususnya di abad ke-19.

Di Sepanjang Groote Postweg: Cianjur-Bandung-Sumedang

Sejak Gubernur Jenderal Hindia Belanda dijabat oleh Herman Willem Daendels, terjadilah perubahan besar-besaran di dalam pola tata ruang fisik pulau Jawa khususnya di wilayah Priangan. Terbangunnya jalan raya yang dikenal sebagai Groote Postweg (jalan raya pos) dari Anyer (pelabuhan kecil di Selat Sunda) hingga Panarukan (ujung Timur Pulau Jawa) sepanjang kurang lebih 1000 kilometer dari tahun 1808-1810 telah menandai dimulainya perubahan besar-besaran tersebut.

Menurut sejarawan Perancis Denys Lombard, alasan Daendels membuat jalan raksasa ini awalnya untuk kepentingan militer dan ekonomi semata. Karena di satu sisi, tidak mungkin menyiapkan pertahanan pantai utara Pulau Jawa secara efektif, karena musuh mungkin mendarat di mana saja, dan mustahil menyongsongnya di sana. Di sisi lain, budidaya kopi tak mungkin berkembang selama biaya angkutan yang sangat besar tak dapat ditekan.

Masih menurut catatan tersebut, dampak `jalan raya` yang juga dikenal sebagai Jalan Raya Daendels itu nampaknya jauh melampaui perkiraan pemrakarsanya. Jalan itu memang tetap tidak memungkinkannya untuk dapat menahan pendaratan Inggris, tetapi mengubah secara besar-besaran kondisi ekonomi dan kehidupan sosial politik di Jawa, termasuk perkembangan pusat-pusat kota di pulau Jawa. Jalan itu juga telah mempersatukan tanah Pasundan dengan tanah Jawa melalui penciptaan sebuah kawasan ekonomi tunggal (Lombard, 2000:139).

Karya tersebut - yang oleh musuh-musuh Daendels sering disamakan dengan pekerjaan `piramida Mesir` - menjadi salah satu infrastruktur terpenting bagi perkembangan kota-kota di Jawa. Kota-kota yang dilalui jalur ini mulai berubah sebagai titik-titik simpul jaringan transportasi dan komunikasi yang sangat efektif untuk kepentingan militer dan ekonomi di Pulau Jawa.

Di Tatar Priangan, pertumbuhan beberapa kota-kotanya jelas banyak juga dipengaruhi oleh terbentuknya Groote Postweg tersebut. Di sepanjang jalur ini tumbuhlah pusat-pusat kota dan pemerintahan di mana dibangun pusat pemerintahan lokal, rumah pejabat tinggi, alun-alun, dan masjid agung. Dari sini jelas, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kotanya, masjid-masjid agung di Tatar Priangan mulailah dibangun sebagai salah satu sarana pelengkap keberadaan pusat pemerintahan lokal. Nampaknya pembangunan struktur pola tata ruang kota-kota di Priangan ini tetap mempertahankan sebagaimana pola kota-kota lama di Jawa.

Seluruh masjid agung di pulau Jawa, hampir selalu terletak di pusat pemerintahan seperti kasultanan, kraton maupun kabupaten-kabupaten yang dibangun sejak zaman Kasultanan Demak, Mataram Islam, atau hingga Kolonial Belanda. Sedangkan di Tatar Priangan khususnya sepanjang Groote Postweg Cianjur, Bandung, dan Sumedang baru dibangun pada zaman pemerintahan Hindia Belanda. Ketiga kabupaten ini dibentuk dalam era Daendels disebut sebagai wilayah Prefectuur Preanger-Regenschappen yang dilalui Groote Postweg. Menarik jika kita telusuri masjid-masjid agung di Priangan tempo doeloe sepanjang Groote Postweg khususnya dari Cianjur, Bandung, dan Sumedang ini.

Dari Cianjur tempo doeloe, kita akan menemui sebuah masjid di sisi Barat alun-alun kota. Meski tata letak masjid dengan alun-alun masih tetap dipertahankan sampai sekarang, namun bentuk dan wajah masjid saat ini sudah jauh meninggalkan aslinya yang bisa dilihat pada foto Masjid Agung Cianjur di tahun 1875.



Foto Masjid Agung Cianjur pada tahun 1875. Proporsi atap dan bangunan masjid dirancang dengan sangat baik sehingga nampak sangat anggun dan bersahaja dilihat dari arah alun-alun (Sumber: masjid2000.org, KITLV).


Meskipun perkembangan Cianjur sudah diresmikan menjadi sebuah kabupaten setelah ditandai dengan pengakuan VOC terhadap keberadaan Aria Wira Tanu II sebagai Regent (Bupati) Cianjur pada tahun 1691, Masjid Agung Cianjur dan alun-alunnya seperti itu baru dibangun sekitar awal abad ke-19, segera setelah Jalan Raya Pos dibangun.

Menurut cerita dari W. R. van Hoevel yang pernah singgah di Cianjur pada tahun 1847, disebutkan bahwa masjid sudah terletak di sebelah barat alun-alun. Alun-alun sendiri merupakan halaman segi empat yang ditanami pohon beringin, dengan gedung kabupaten di sebelah selatannya dan juga terdapat kediaman residen serta penjara. Cerita ini menunjukkan bahwa Masjid Agung Cianjur jelas telah berdiri sebelum tahun 1847.

Dari gambar Masjid Agung Cianjur tahun 1875 itu dapat kita amati bahwa masjid beratap tumpang tiga dengan bentuk menjulang tinggi ke atas (nyungcung), sementara bagian bawah tiap tumpukan terlihat belok ke arah lebih mendatar karena sudut kemiringannya lebih rendah. Tiap bagian atap terlihat adanya bukaan sebagai pemisah antar tumpukan atap yang terbuka. Dari sini, bukaan tersebut juga jelas menjadi peralihan yang menarik antara masing-masing bentuk atap tumpangnya.

Bukaan itu juga dimaksudkan untuk ventilasi udara dan sekaligus cahaya yang memberi kenyamanan serta penerangan alami ruang dalam. Solusi ini nampaknya sangat tepat jika dikaitkan dengan pertimbangan kondisi alam setempat yang tropis panas dan lembab.

Di sisi lain proporsi atap dan juga bangunannya terlihat dirancang dengan sangat baik, sehingga tinggi semampai, anggun, berwibawa dan enak dipandang dari arah alun-alun. Perhatikan pula adanya kolom dua berjajar di bagian depan masjid, nampaknya pengaruh seni bangunan kolonial Belanda sudah terlihat dalam wujud rancangan fisiknya. Kolom berderet di bagian depan masjid seperti itu jarang terdapat pada masjid-masjid tradisional di Jawa pada umumnya.

Setelah Cianjur, bila kita menyusuri Groote Postweg ke arah timur, kita akan menjumpai Kota Bandung tempo doeloe dengan pusat pemerintahan lokal yang baru dipindahkan sesaat setelah pembangunan Jalan Raya Pos tersebut. Pusat pemerintahan lokal ini ditandai dengan adanya alun-alun dan masjid agung, Bale Bandung, rumah pejabat tinggi, dan kemudian penjara kolonial. Jalan Raya Pos ini sekarang telah diganti nama menjadi Jalan Asia Afrika.

Pusat pemerintahan tradisional Bandung tempoe doeloe sebelumnya tidak dilalui Jalan Raya Pos, kemudian terpaksa berpindah agar mendekati dan dilalui jalan raya tersebut. Ini menunjukkan Kota Bandung lahir dan berkembang jelas tidak melalui kekuatan lokal pribumi tetapi banyak dipengaruhi oleh kekuatan politik kolonial Hindia-Belanda. Berpindahnya pusat pemerintahan tradisional Kota Bandung yang tadinya berlokasi di Dayeuh Kolot (kurang lebih 12 km di selatan Jalur Groote Postweg) hingga mendekati dan dilalui jalan raya, merupakan instruksi pemerintah Kolonial Belanda yang menandai kuatnya pengaruh tersebut.

Akhirnya perkembangan Kabupaten Bandung (istilah saat itu) baru dimulai pada awal abad ke-19 (tahun 1810) yang diawali pembangunan pusat pemerintahan lokal, rumah tinggal pejabat tinggi, alun-alun dan masjid agung yang dilalui jalan raya tersebut. Pembangunan pusat pemerintahan lokal ini berlangsung hingga memasuki tahun 1820.



Foto Masjid Agung Bandung pada tahun 1875. Terkenal dengan sebutan Bale Nyungcung hingga pertengahan abad ke-20 (Sumber: masjid2000.org, KITLV).



Dari gambar itu dengan jelas dapat kita amati bahwa Masjid Agung Bandung di tahun 1875 beratap tumpang tiga dengan bentuk atap menjulang tinggi ke atas (nyungcung), sementara bagian bawah tiap tumpukan atap terlihat belok ke arah lebih mendatar karena sudut kemiringan atapnya lebih rendah. Bentuk seperti ini sangat dikenal di dalam benak warga Kota Bandung tempo doeloe dengan istilah Bale Nyungcung.

Bentuk dan ekspresi atap masjid seperti itu sebenarnya tidak hanya terjadi pada tahun 1875 saja, tetapi dari sejak 1850-an atau bahkan sebelumnya yang terlihat dari litho pelukis Inggris W. Spreat yang kemudian tetap dipertahankan hingga sebelum 1955 meski dengan ekspresi dan proporsi yang sedikit berbeda-beda (Lihat lengkapnya dalam tulisan saya berjudul `Tinjauan Arsitektur Masjid Agung Bandung dari Masa ke Masa`, H.U. Pikiran Rakyat, Rabu 3 Januari 2001).

Tiap bagian atap juga memperlihatkan adanya bukaan sebagai pemisah antar tumpukan atap yang terbuka, dan sekaligus menjadi peralihan yang menarik antara masing-masing bentuk atap tumpangnya. Dan pada bagian depan dan samping kiri dan kanan masjid sangat jelas memperlihatkan deretan kolom yang merupakan pengaruh seni bangunan `neo classic` Eropa.

Selanjutnya, jika terus ditelusuri Groote Postweg dari Bandung ke arah timur, meski harus menyusuri jalan yang berat dan berliku-liku maka akan dijumpai lagi sebuah Kabupaten Sumedang. Konon pembuatan Groote Postweg ke arah wilayah ini memang paling berat (selain kawasan Puncak) yang banyak memakan korban penduduk pribumi. Sehingga menurut catatan sejarah sempat menimbulkan penentangan yang dipimpin oleh Bupati Sumedang pada saat itu Pangeran Kornel.



Foto Masjid Agung Sumedang pada tahun 1875. Dengan latar pegunungan, tampaknya atap `nyungcung` dengan bagian bawah tiap tumpukan atap bersudut lebih datar seperti ini merupakan ciri khas pada masjid-masjid Priangan tempo doeloe tahun 1875 (Sumber: masjid2000.org, KITLV).



Dari segi bentuk dan ekspresi atap serta bangunan Masjid Agung Sumedang tahun 1875 ini jelas menunjukkan ciri-ciri atau karakteristik yang sama dengan di Masjid Agung Cianjur tahun 1875 maupun di Masjid Agung Bandung tahun 1875, yakni atap tajuk tumpang tiga `nyungcung` dengan bagian bawah masing-masing tumpukan bersudut lebih datar. Kesamaan-kesamaan lainnya juga dapat dilihat pada bukaan/jendela antar tiap tumpukan atap sebagai ventilasi udara dan cahaya, dan deretan tiang di depan atau samping bangunan masjid. Begitu pula secara tata letak, masjid memiliki kesamaan yakni di sebelah barat alun-alun kabupaten.

Di Priangan Timur: Dari Garut ke Tasikmalaya

Jika di atas telah kita telusuri masjid-masjid Priangan tempo doeloe (Barat dan Tengah) sepanjang Groote Postweg, di sini akan kita lihat dua masjid lagi yang tidak berada di sepanjang jalur tersebut, tetapi di wilayah Priangan Timur yakni Kabupaten Garut dan Tasikmalaya. Dari masanya, dua masjid di dua kabupaten ini berdiri hampir bersamaan dengan berdirinya masjid-masjid di sepanjang Jalan Raya Pos yakni di awal abad ke-19.

Di Garut tempo doeloe kita akan menemukan masjid agung yang telah dibangun pada awal abad ke-19. Pembangunan Masjid Agung Garut ini sangat erat kaitannya dengan pembentukan Kabupaten Garut. Menurut catatan sejarah, pada tanggal 15 September 1813 diletakkanlah batu pertama pembangunan sarana dan prasarana ibukota, yaitu tempat tinggal dan tempat kerja bupati, pendopo, kantor asisten residen, masjid, penjara dan alun-alun. Di depan pendopo terdapat babancong, tempat untuk berpidato bupati atau para pejabat pemerintah lainnya di depan publik. Setelah tempat-tempat ini selesai dibangun, ibukota Kabupaten Limbangan pindah dari Suci ke Garut sekitar 1821.

Masjid Agung Garut juga terletak di sebelah barat alun-alun kota. Masjid agung menjadi masjid utama di kabupaten tersebut dan segala kegiatan keagamaan berpusat di sana yang dipimpin oleh penghulu. Tempo doeloe antara masjid dan alun-alun dipisahkan dengan jalan alun-alun Barat. Sekarang jalan ini dihilangkan sehingga masjid menyatu dengan alun-alun.

Masjid Agung Garut di tahun 1875 beratap tajuk tumpang tiga (nyungcung), dengan bagian bawah tiap tumpukan atap bersudut lebih datar. Ini sangat mirip dengan masjid-masjid di Priangan sepanjang Groote Postweg pada waktu yang sama di atas. Memang terlihat sedikit perbedaan, yakni pada proporsi atapnya yang terlihat lebih besar atau tinggi. Kesamaan lainnya juga dapat diamati pada deretan tiang-tiang/kolom di depan atau sebelah kiri dan kanan masjid.



Foto Masjid Agung Garut pada tahun 1875. Memiliki kesamaan bentuk dan ekspresi atap dengan masjid-masjid di Priangan tempo doeloe lainnya meski sedikit memperlihatkan perbedaan proporsi (Sumber: masjid2000.org, KITLV).



Setelah Garut, di Priangan Timur ini akan kita temui masjid agung yang dibangun pada awal abad ke-19 dan juga menandai tumbuh dan berkembangnya Kabupaten Tasikmalaya, yakni Masjid Agung Manonjaya. Masjid menjadi bukti sejarah adanya kabupaten Sukapura yang berarti pula bukti sejarah perkembangan Tasikmalaya sekarang. Masjid dari sejak dulunya telah dipakai sebagai tetenger untuk mengembangkan tata kota Harjawinangun. R. Memed Sastra Hadiprawira dalam Volk Almanak Soenda Parahyangan tanggal 12 November 1931 menyebutkan bahwa sewaktu pemindahan ibukota ke Harjawinangun, sebelumnya memang sudah ada masjid kecil dan bahkan oleh Raden Tumenggung Danuningrat ketika merencanakan tata ruang kota Harjawinangun berpedoman pada masjid yang sudah ada tersebut. Dalam konteks ini, keberadaan masjid jelas merupakan satu kesatuan dengan pembangunan tata ruang kabupaten Sukapura pada waktu itu.

Pada tahun 1837, Raden Tumenggung Danuningrat yang menggantikan Raden Demang Anggadipa II sebagai Bupati Sukapura memperbesar masjid dan mengembangkan alun-alun. Masjid dibangun dengan atap tumpang yang bersusun tiga yang pada bagian atas/ujung atap diberi kemuncak (mustaka), dan empat buah tiang utama sebagai penyangga atapnya.

Masjid Agung Manonjaya di tahun 1875 tetap beratap tajuk tumpang tiga (nyungcung) dengan bagian bawah tiap tumpukan memiliki sudut yang lebih datar. Dan antara tumpukan atap juga terdapat bukaan sebagai ventilasi udara dan cahaya dan sekaligus peralihan antara tumpukan atap. Yang terakhir, kesamaan masih juga dimiliki pada terdapatnya deretan tiang/kolom baik di depan, atau samping kanan dan kiri masjid. Nampaknya inilah ciri-ciri umum masjid-masjid di wilayah Priangan tempo doeloe tahun 1875.



Foto Masjid Agung Manonjaya–Tasikmalaya pada tahun 1875. Perhatikan pagar bermotif sisik ikan yang pernah populer dan menjadi pagar-pagar khas di penjuru kota/kabupaten Priangan tempo doeloe (Sumber: masjid2000.org, KITLV).



Sebagai catatan terakhir dari penelusuran, adalah terdapatnya kesamaan penggunaan pagar bermotif sisik ikan, terutama dan yang paling jelas adalah pada Masjid Agung Manonjaya. Nampaknya pagar dengan motif seperti itu sangat populer di wilayah Priangan tempoe doeloe di abad ke-19. Pagar bermotif seperti inilah yang kemudian diambil oleh arsitek terkenal Belanda Henry Maclaine Pont sebagai titik tolak merencanakan pagar-pagar pusat-pusat kota/kabupaten di Priangan tempo doeloe termasuk masjid agung, Bale Bandung dan sekitarnya di tahun 1930-an.

Henry Maclaine Pont memang salah seorang arsitek Belanda (selain Schoemaker dan Karsten) yang dikenal sangat menghargai potensi dan budaya lokal. Mereka (Pont, Schoemaker, dan Karsten) berusaha keras menyatukan pandangan arsitektur yang memperhatikan potensi budaya setempat/lokal, dengan perhatiannya yang sangat teliti terhadap detail-detail karya rancang bangunnya. Nampaknya ini merupakan satu pelajaran berharga yang penting khususnya bagi para arsitek/perancang bangunan maupun para pengambil keputusan yang akan berdampak bagi seluruh warga masyarakat secara umum dalam membangun modernitas kita saat ini.

****

Penulis adalah Staf Pengajar Departemen Arsitektur ITB

published @ Koran Pikiran Rakyat, December 24, 2001

Thursday, March 30, 2006

MASJID SAID NAUM, UNGKAPAN LOKALITAS DALAM MASJID MODERN

oleh Bambang Setia Budi


SUATU rancangan masjid yang sangat berhasil dalam upaya menghadirkan kosa bentuk masjid tradisional Jawa ke dalam ungkapan-ungkapan modern adalah Masjid Said Naum yang terletak di dalam area kepadatan tinggi di Kebon Kacang, Jakarta.

Masjid yang dirancang arsitek Adhi Moersid dan tim ini jelas memperlihatkan usaha serius dalam mengakomodasi dua kepentingan berbeda yaitu merepresentasikan karakter arsitektur lokal/tradisional dengan pendekatan modern.Wajar jika rancangan ini kemudian memenangkan kompetisi yang diadakan Pemda DKI pada tahun 1975 di mana kriteria utamanya adalah harus merepresentasikan karakter arsitektur tradisional, cocok dengan lingkungan sekitar, dan menggunakan material lokal. Atas alasan itu pulalah bangunan masjid yang selesai pembangunannya tahun 1977 ini mendapatkan penghargaan Honourable Mention dari Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1986.



Masjid Said Naum -Penampilan masjid didominasi oleh atap yang mencoba menggubah kembali atap tumpang atau Meru tradisional ke dalam perwujudan yang baru. (Sumber: masjid2000.org/N. Luthfi).



Menurut catatan tertulis dari sang arsitek, pada waktu menggarap rancangan ini sebenarnya tidak ada pretensi mengupas kemudian merumuskan bagaimana tradisi dan unsur arsitektur tradisional dapat dimasukkan ke dalam rancangan dengan mengikuti aturan atau teori tertentu. Namun, yang dicoba dilakukan adalah mencarikan landasan untuk memberikan makna pada ungkapan arsitekturnya baik yang teraga maupun yang tidak teraga.

Salah satu landasan perancangannya adalah keyakinan bahwa Islam merupakan ajaran atau ideologi yang ke mana pun ia datang tidak secara langsung membawa atau memberikan bentuk budaya berupa fisik. Di mana pun Islam datang, ia siap memakai berbagai bentuk lokal/tradisional untuk dijadikan identitas fisiknya. Dari sini kita menemukan banyak bangunan-bangunan tradisional yang dengan mudah dapat berubah fungsinya menjadi masjid di berbagai masyarakat yang telah memeluk agama Islam.

Arsitektur Islam dapat juga dinyatakan sebagai manifestasi fisik dari adaptasi yang harmonis antara ajaran Islam dengan bentuk-bentuk lokal. Oleh karena itu, Arsitektur Islam bisa amat kaya akan ragam dan jenisnya sebagaimana yang diungkapkan arsitek Muslim Turki Dogan Kuban bahwa tidak ada homogenitas dan kesatuan dalam bentuk dari apa yang disebut Arsitektur Islam. Konsep inilah yang dipakai sang arsitek sebagai fokus sentral dalam mendesain masjid bernuansa modern di atas tanah wakaf warga keturunan Mesir bernama Said Naum.

***

DARI segi bentuk, gubahan pertama yang menarik perhatian adalah desain atap masjid. Karena arsitektur atap merupakan salah satu ciri menonjol dalam arsitektur tradisional di Indonesia/Jawa, dapatlah dimengerti jika desain ini mencoba mengambil kembali karakteristik atap masjid tradisional, namun direvitalisasi.

Penampilan masjid didominasi atap yang mencoba menggubah kembali atap tumpang atau meru tradisional yang sering ditampilkan dalam bangunan sakral di Jawa atau Bali, ke dalam perwujudan baru. Berbeda pada bangunan tradisional, bagian atas diputar 90 derajat dari bentuk massa bangunan masjidnya. Hal ini jelas memperlihatkan usaha menarik dalam menampilkan gagasan baru untuk merevitalisasi bentuk atap lokal/tradisional tersebut. Bentuk seperti itu tampaknya berkembang lebih lanjut di kemudian hari pada bangunan masjid-masjid modern lainnya di Indonesia seperti Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makassar dan Masjid Pusdai (Islamic Center) di Bandung.










Cahaya alami - Pencahayaan alami menembus masuk ke dalam ruang shalat memberi suasana kenyamanan bagi setiap pengguna. Sementara pada bagian atas terlihat balok-balok struktur rangka atap yang menjadi `self bearing structure` dari sistem struktur atap tradisional sengaja diekspose. (Sumber: masjid2000/N. Luthfi)



Bentuk atap tersebut sebenarnya juga memperlihatkan kesamaan profil dengan tipe atap tumpang dengan saka guru. Biasanya ada empat saka guru di tengah ruang shalat untuk menyangga atap kedua maupun ketiganya. Namun, empat saka guru tersebut di dalam rancangan ini dihilangkan agar didapat pandangan secara jelas ke arah mihrab dan tersedia ruang tempat shalat dengan bebas.

Konsekuensi penghilangan kolom-kolom saka guru di tengah-tengah ruangan tersebut adalah diperlukannya struktur bentang cukup lebar. Tampaknya pilihan struktur rangka baja telah dipakai untuk menggantikan struktur kayu yang biasa pada masjid tradisional. Namun yang sangat menarik di sini adalah dikembangkannya kembali konsep sistem atap lama pada struktur rangka atap yang rigid sebagai self bearing structure untuk menutup ruang dengan bentang lebar. Desain ini dengan jelas memeragakan pemanfaatan teknologi yang diadaptasikan dengan tradisi lokal.

Pencahayaan alami yang masuk ke ruang shalat memberi suasana nyaman bagi setiap pengguna. Sementara pada bagian atas terlihat balok struktur rangka atap yang menjadi self bearing structure dari sistem struktur atap tradisional sengaja diekspos.

***

YANG juga terlihat sangat menonjol dalam rancangan masjid yang berdenah segi empat simetris ini adalah kenyamanan ruang-ruangnya, yang terjadi sebab adanya bukaan di semua sisi dindingnya sehingga tercapai penghawaan silang dengan baik. Di setiap sisi dinding masjid terdapat lima jendela kayu lengkung yang lebar dengan beberapa di antaranya dipakai sebagai pintu. Uniknya bukaan-bukaan ini tidak menggunakan daun jendela/pintu tetapi deretan kayu berukir/berulir berjarak tertentu dengan arah vertikal yang mengisi luas jendela tersebut. Model jendela seperti ini mengingatkan pada rumah-rumah tradisional Betawi maupun masjid-masjid lama di Jakarta yang dibangun sejak abad ke-18.









Bukaan - Bukaan tanpa daun jendela pada setiap sisi bangunan seperti ini menjadikan angin bebas bertiup ke dalam bangunan sehingga tercapai penghawaan silang. Nampaknya ini merupakan salah satu kunci kenyamanan karena mengadaptasi kondisi iklim lokal. (Sumber: masjid2000/N. Luthfi).



Bukaan tanpa daun jendela pada setiap sisi bangunan seperti ini menjadikan angin bebas bertiup ke dalam bangunan sehingga tercapai penghawaan silang. Nampaknya ini merupakan salah satu kunci kenyamanan karena mengadaptasi kondisi iklim lokal.

Penggunaan sirkulasi yang mudah dan jelas juga memberi kenyamanan tersendiri dari bangunan berkarakter publik ini. Selain itu, penggunaan bentuk atap juga sangat cocok untuk bangunan di tempat yang memiliki curah hujan tinggi, bahkan adanya selasar yang lebar pada semua sisi yang dapat melindungi ruang dalam/interior dari hujan dan silau akibat panas matahari luar semakin menambah kenyamanan ruang-ruang masjid.

Pencahayaan alami yang dramatis dan sayup-sayup lembut-yang memasuki ruangan shalat baik dari samping maupun dari lubang cahaya dari pertemuan bidang miring atap yang diputar dengan atap di bawahnya-sangatlah mendukung suasana kekhusyukan. Sementara lampu di tengah langit-langit atap sangat serasi dengan geometri yang memberikan cahaya iluminasi. Bagaimanapun, efek pencahayaan ini memberikan kenyamanan sangat bagi setiap pengguna ketika berada di dalam masjid.

Area di luar bangunan dirancang dengan berbagai level dengan tanaman berbeda pada masing-masing tempat. Pepohonan di sekeliling batas dan sebagai pengisi antarbaris paving lantai menyediakan bayangan dan atmosfer yang relatif sejuk yang mengalir secara silang ke dalam bangunan. Tata letak bangunan dan penataan lanskap tersebut jelas hendak menjadikan area yang tenang, sejuk, dan damai bagai oase di tengah hiruk-pikuk area urban Kota Jakarta. Ini menunjukkan desain bangunan yang sangat adaptif dengan iklim lokal.

Dengan demikian, baik penampilan masjid dalam ruang dan bentuk, tata letak dan penataan lanskap, tampaknya sangat mendekati ideal. Kehadirannya begitu nyaman bagi kegiatan ritual ibadah seperti shalat, itikaf (berdiam diri di dalam masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah), perenungan hingga muhasabah (mengevaluasi diri).

Ini semua tidak lepas dari kuatnya ungkapan-ungkapan karakter lokal atau lokalitas dalam rancangan masjid baik secara keseluruhan maupun detail-detailnya. Ungkapan lokalitas memang banyak diolah dan menjadi ciri penting dalam rancangan masjid modern ini. Bahkan, materialnya menunjukkan material lokal kecuali bahan baja untuk struktur atap. Ini yang tampaknya patut menjadi contoh dan perlu dikembangkan perancang/arsitek untuk bangunan masjid khususnya dan bangunan lain pada umumnya di negeri kita tercinta, Indonesia.

****

Penulis adalah Staf Pengajar Departemen Arsitektur ITB.

published @Kompas, November 04, 2001