Wednesday, August 02, 2006

INT'L JOURNAL PAPER - PART 2

A Study on the History and Development of the Javanese Mosque - Part 2: The Historical Setting and Role of the Javanese Mosque under the Sultanates*


Bambang Setia Budi

Doctoral Candidate, Department of Architecture and Civil Engineering, Toyohashi University of Technology, Japan


Abstract

This paper aims at discussing the historical setting and role of the Javanese Mosques under the Sultanates. The discussion will focus on where the mosques were built and what was the main purpose of mosques constructed under each Javanese Sultanate until the end of nineteenth century. Under Sultanates, many mosques were founded by wali (saint), sultan, sultan’s family, or kyai (Islamic/religious teacher) ordered by the sultan. Referring to this kind of mosque, 71 surveyed mosques will be analyzed by historical setting and roles of the mosque as there are some varieties in each sultanate. Based on this analysis, this paper argues that there are four types of mosques: Agung (Grand) Mosque, Langgar Kraton (Palace) Mosque, Community Mosque, and Isolated Mosque. It also argues that the historical setting of mosque always has a close relationship with its roles in each sultanate.

Keywords: Historical setting; Main role, Javanese mosque; Islam; Sultanate

*This paper was published in the Journal of Asian Architecture and Building Engineering (JAABE), Vol.4. No.1, May 2005.

For the completed article, please click this link
http://www.jstage.jst.go.jp/article/jaabe/4/1/1/_pdf

To know more about the Journal, please click this link
http://www.aij.or.jp/eng/jaabe/

PS. untuk mbak Indri, maaf belum menjawab pertanyaannya. InsyaAllah bentar lagi ya "smile".

Friday, June 30, 2006

MASJID SALMAN ITB, TONGGAK ARSITEKTUR MASJID KONTEMPORER DI INDONESIA

oleh Bambang Setia Budi


Bangunan masjid ini layak disebut sebagai satu tonggak arsitektur masjid paling penting bagi pembaruan bangunan masjid-masjid d
i Indonesia. Tonggak itu dapat dilihat pada upaya pembebasan diri dari tradisi dengan ditinggalkannya (hampir) secara total penggunaan idiom-idiom klasik seperti atap tumpang/tajuk pada masjid-tradisional atau kubah yang sering dianggap sebagai idiom universal dari masjid.





Masjid Salman ITB – Menjadi satu tonggak paling penting arsitektur masjid kontemporer di Indonesia karena totalitasnya dalam upaya pembebasan dari tradisi. (Foto: Bambang Setia Budi)



Sebutan mas
jid kontemporer, atau bisa juga modernistik/kiwari merujuk pada rancangan bangunan masjid yang berupaya membebaskan diri dari tradisi, atau paling tidak mere-interpretasi atas bahasa/ungkapan arsitektur yang telah ada/sudah lazim serta berkembang sebelumnya. Wacana desain arsitektur masjid modern oleh para perancang/arsitek masjid saat ini, memang sudah semestinya dilakukan dengan mere-interpretasi ungkapan-ungkapan lama atau bahkan pembebasan tradisi dalam makna pembaruan yang terus menerus.

Masjid Salman yang dirancang pada tahun 1964 oleh Achmad Noe`man ini, tampaknya telah mampu memecahkan kesunyian penciptaan karya arsitektur masjid-masjid di Indonesia selama hampir lebih dari lima setengah abad. Di sinilah letak monumentalitasnya, artinya karakteristik dan perwujudan dari gagasan bentuk dan ekspresi arsitekturalnya, jelas telah merombak pola-pola lama dalam perwujudan bentuk dan ekspresi masjid-masjid di Indonesia yang telah ada sebelumnya.

Gagasan-gag
asan totalitas dalam pembebasan tradisi tersebut, termasuk dalam pengambilan pilihan material, teknik dan teknologi membangun masjid pada saat itu, tampaknya menjadi `sangat konstekstual` jika dilihat dari keberadaannya sebagai masjid kampus yang sudah sewajarnya penuh dinamika dan sumber pembaharuan. Jelaslah, ia telah hadir secara tepat dalam konteks ruang dan waktunya.

Bahkan nama Salman itu sendiri - yang diberikan oleh Soekarno sebagai salah seorang sarjana lulusan Teknik Sipil ITB dan merupakan presiden RI pada waktu itu - cocok dengan bangunan masjid dan bagi lingkungan kampusnya, Institut Teknologi Bandung. Nama Salman merujuk pada seorang teknokrat brilian sahabat Nabi asal Persia Salman Al-Farisi yang mengusulkan gagasan menggali tanah pada perang khandaq (parit) sehingga menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menahan serangan musuh pada waktu itu.

***

Faktor penting dalam gagasan pembaruan tradisi berarsitektur, bisa saja lahir dari suatu pemikiran atau pandangan baru yang mendasar dan diyakini secara mendalam pada diri perancang kemudian diterapkan dengan kaidah-kaid
ah baru sesuai keyakinannya. Pada konteks ini, tentu yang dimaksud adalah gagasan baru yang berkaitan dengan arsitektur Islam pada umumnya dan arsitektur masjid khususnya. Jika ditelaah lebih jauh, maka pemikiran modern memang sangat terlihat dalam beberapa tulisan maupun pernyataan arsiteknya.

Satu hal dari pemikiran sang arsitek yang paling mendasari perwujudan bangunan itu adalah penentangannya terhadap sikap `taqlid` (imitasi) yakni menerima tanpa dimengerti dalam segala persoalan. Terlebih imitasi dalam dunia desain/arsitektur, tentu sesuatu yang sangat tidak dibenarkan, sehingga pintu ijtihad untuk menghasilkan gagasan-gagasan baru harus selalu dibuka lebar-lebar. Arsitek harus selalu berijtihad dengan ilmu pengetahuan untuk menghasilkan karya-karya yang `excellent`, kreatif dan inovatif sehingga menjadi karya budaya yang bermanfaat bagi diri sendiri dan umat.

Menurutnya, tidak ada yang disebut sebagai arsitektur Islam sepanjang suatu ide atau karya tidak mengikuti secara ketat disiplin ilmu arsitektur. Sebab tidak ada satu aturan pun di dalam Al-Qur`an maupun hadits Nabi yang mengharuskan bentuk dan ekspresi bangunan harus mengikuti sesuatu. Terlebih jika mengikuti tuntunan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari: “Dan apabila suatu itu merupakan urusan duniamu, maka engkaulah yang lebih mengetahuinya (berhak menentukannya)”, maka muncullah keyakinan bahwa para desainer-lah yang paling berhak menentukan dan menterjemahkannya ke dalam perancangan tanpa harus terikat pada pemikiran-pemikiran tradisi dan budaya sebelumnya.

Pandangan t
erhadap ungkapan-ungkapan arsitektural dari landasan-landasan kelaziman maupun tradisi, jelas telah bergeser kepada interpretasi individual yang bebas. Ini yang menyebabkan gagasan bentuk dan ekspresi masjid tersebut jauh meninggalkan tradisi perwujudan masjid-masjid sebelumnya di Indonesia. Dari sinilah latar kehadiran sebuah karya arsitektur masjid Salman dapat dimengerti.

Yang paling
monumental pada masjid ini sehingga kehadirannya begitu mencolok yang membedakan dengan yang lainnya adalah pada penampilan bentuk atap masjidnya. Pada saat sebagian besar atap masjid-masjid di Indonesia lainnya berbentuk atap tumpang, kubah, atau kombinasi dari keduanya, maka masjid ini didesain dengan menggunakan atap datar yang setiap ujung atapnya berbentuk melengkung hingga menyerupai sebuah mangkok terbuka.



Eksterior – Ungkapan bentuk dan ekspresi bangunannya (terutama atap), jelas tidak mudah untuk dipahami oleh masyarakat umum sebagai bangunan masjid (Foto: Bambang Setia Budi)




Gagasan bentuk dan ekspresi atap seperti itulah yang paling memperlihatkan orisinalitasnya karena ketiadaan contoh dan rujukan sejarah pada atap bangunan masjid di Indonesia. Ia juga telah mampu menegaskan kembali orientasi yang benar (kiblat), sehingga tidak lagi terjadi dualisme dengan arah vertikal sebagaimana ekspresi atap masjid-masjid di Nusantara sebelumnya.

Menurut sang arsitek, bentuk atap beton yang menggunakan balok beton prestressed dalam grid dua arah yang membentang 25 meter tersebut diinspirasikan dari bentuk negatif atap bangunan Aula Timur – yang menjadi ciri khas atap-atap bangunan k
ampus ITB – di seberang jalan. Lengkungan atap sebenarnya bukan sekadar mengejar ekspresi bentuk semata, tetapi juga berfungsi sebagai talang besar bagi aliran air dari atap datarnya.

Dengan menggunakan balok beton prestressed untuk solusi struktur bentang lebar ini, maka dip
erolehlah ruang shalat yang luas namun bebas kolom yang selalu menjadi salah satu ciri penting masjid rancangan Achmad Noe`man. Masjid inilah yang telah menjadi masjid pertama dalam penggunaan teknik dan teknologi seperti itu di Indonesia. Hal tersebut bisa terjadi tentu karena kemajuan teknologi yang memungkinkannya.

Namun, bentuk dan ekspresi seperti itu tampaknya telah menimbulkan keragaman berbagai interpretasi bagi banyak pengamat seperti sebagai abstraksi bentuk telapak tangan yang sedang `berdoa` yang menengadah ke atas atau sebuah `mangkok` bagi ilmu, berkah dan rizki. Dan jika dihubungkan dengan menaranya, bentuk ini bisa juga diinterpretasikan sebagai bentuk huru
f `ba` yang mengawali kata `bait` artinya rumah, sedangkan menara `menhir`-nya sebagai huruf alif yang mengawali kata `Allah`, sehingga secara keseluruhan berarti `bait Allah` atau rumah Allah.

Yang jelas bahasa atap ini tidak serta merta mudah dipahami oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia sebagai bangunan masjid jika dilihat dari eksteriornya. Maka adanya menara di sebelah ujung bagian timur ruang terbuka masjid telah membantu masyarakat mengenalinya sebagai masjid. Elemen menara yang berbentuk menhir dan didesain serasi dengan bentuk masjidnya tersebut memang akhirnya menjadi satu-satunya penanda fisik dari sisi luar bahwa bangunan tersebut adalah masjid. Menara itu juga berfungsi untuk memperluas jangkauan suara adzan dan menjadi landmark kawasan Masjid Salman.











Mihrab
– Ruangan mihrab yang dibentuk oleh dinding lengkung dengan tekstur dinding kasar (beton brut). Di atasnya digantung kotak hitam sebagai miniatur ka`bah sebagai aksentuasi (Foto: Indra Yudha).



***

Meski atapnya datar, rancangan masjid ini tetap dianggap cukup berhasil dan tanggap terh
adap iklim tropis, terutama ditunjukkan dengan detail-detail talang air hujan, penggunaan ventilasi silang yang sangat baik dan adanya koridor yang lebar baik di samping kanan, kiri, maupun sebelah timur ruang utama shalat. Koridor-koridor tersebut telah berfungsi menjadi pengganti `overstek` dan sebagai ruang transisi dari ruang luar ke ruang dalam masjid.

Yang menarik dari transisi ini adalah timbulnya kejutan ruang yang dinamis akibat adanya ruang koridor timur yang didesain dengan ketinggian rendah - karena adanya mezanin sebagai tempat shalat wanita – dengan skala monumental yang dirasakan ketika mulai memasuki ruang shalat utama.

Selain kejutan ruang itu, suasana di dalam ruang shalat utama yang berbentuk persegi itu me
mang sangat berbeda jika dibandingkan dengan di luar bangunan. Di saat bangunan luar berkesan berat dan dingin karena dari beton, suasana di dalam ruang shalat terasa sangat hangat, akrab dan nyaman karena didominasi pemakaian material kayu jati ekspos baik pada lantai, dinding, dan plafon serta efek lampu temaram yang secara dramatis keluar dari balik persembunyiannya.


Lampu Tersembunyi – Efek cahaya lampu yang dramatis keluar dari celah-celah pertemuan kayu menambah hangat suasana ruangan masjid (Foto: Indra Yudha).




Karakteristik lainnya yang tak kalah penting dari rancangan masjid kontemporer ini adalah kuatnya pengaruh modernisme atau langgam `The International Style` pada berbagai perwujudan fisiknya. Hal ini bisa dilihat pada penggunaan bentuk-bentuk kubikal/volumetrik, simplisitas/minimalis, fungsionalisme, prinsip kejujuran material dan struktur, penekanan pada detail-detail dan tanpa ornamen.

Pemisahan antara elemen kolom dengan dinding, permainan solid-void, dan detail-detail peralihan bahan sangat jelas memperlihatkan prinsip-prinsip kejujuran material maupun strukturnya. Sedangkan gagasan volumetrik, bentuk-bentuk lengkung, `sculptural effect` dan bahkan penggunaan beton brut pada mihrab, telah secara khusus mengingatkan pada idiom-idiom `Corbuesque` sebagaimana yang tercermin pada bangunan Chapel Notre-Dome-du Haut di Ronchamp, Perancis karya monumental sang maestro Arsitektur Modern Le Corbusier.

****

Published @Kompas, 5 Januari 2003
Catatan: artikel ini mendapatkan penghargaan
dari KIMPRASWIL di Jakarta sebagai artikel favorit yang telah terpublikasi tentang bangunan tahun 2003.

Friday, June 23, 2006

PENGHEMATAN ENERGI DALAM SEMUA ASPEK KEHIDUPAN

24-Nov-2005 07:32

Last modified: 24/11/05

GERAKAN hemat energi mau tak mau harus segera direalisasikan dalam semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Sebab, harga bahan bakar minyak (BBM) yang makin melambung tinggi, sangat potensial menambah jumlah rakyat miskin di negeri ini. Karena itu, penggunaan batu bara kini digalakkan. Yang penting, efek negatif penggunaan energi itu harus ditekan seminimal mungkin agar tujuan penghematan itu tercapai.


Membangun Kota Hemat Energi

PENGHEMATAN energi sejatinya hanya akan berhasil jika manajemen perkotaan memang dirancang sebagai kota hemat energi. Manajemen kota hemat energi akan dengan sendirinya melahirkan budaya dan kebiasaan hemat energi.

Demikian dikatakan pakar tata kota dari Institut Teknologi Bandung, Bambang Setia Budi yang tak lama lagi akan meraih gelar Doktor Arsitektur dari Toyohashi University of Technology, Jepang.

Menurut Bambang, di banyak negara maju, upaya menghemat energi sudah diawali sejak merancang sistem penataan kota. Menurut Bambang, sedikitnya ada tiga persoalan kota yang sangat penting untuk diperhatikan dalam membangun kota hemat energi.

Dalam upaya membangun kota hemat energi, beberapa langkah perencanaan transportasi dan manajemen lalu lintas yang terpenting adalah membangun dan menyediakan sarana dan prasarana transportasi publik/masal yang efisien dan representatif. Makin besar skala sebuah kota, dapat dipastikan makin banyak pula jumlah orang yang bergerak di dalam kota setiap waktunya.

Oleh karenanya, perencanaan dan pengelolaan sistem transportasi publik/masal yang baik, efisien, dan representatif serta pengaturan/manajemen yang tepat akan menjadi faktor kunci bagi penghematan energi di kota. Penggunaan mobil pribadi akan rendah karena merasa cukup dengan transportasi publik. Dengan begitu penghematan energi sangat besar.

Menengok kota-kota besar di negara maju, seperti Jepang, andalan utama transportasi massalnya adalah kereta listrik (densha) atau kereta listrik bawah tanah/subway (cikatetsu) yang bisa mengangkut ribuan orang pada waktu bersamaan ketika jam sibuk.

Selain praktis, aman, dan nyaman, harga pun sangat terjangkau bagi masyarakat luas untuk ukuran masyarakat di Jepang. Juga ketepatan waktunya dapat dijamin dalam hitungan menit. "Di kota-kota besar di Jepang, kita akan menemukan sistem kereta listrik yang sangat efisien yang menghubungkan sub urban dengan area pusat kota. Kereta-kereta itu pun hampir selalu dipenuhi ribuan penumpang," katanya.

Selain itu, kereta-kereta listrik lokal dengan frekuensi yang sangat tinggi juga siap melayani penumpang di dalam area metropolitan. Misalnya, Yamanote Line, salah satu jalur loop Kota Tokyo, kereta-keretanya berlari setiap tiga menit sekali di siang hari. Sebagai gambaran dominannya penggunaan transportasi masal kereta listrik bawah tanah juga bisa dilihat di Kota Nagoya, kota terbesar ketiga di Jepang.

Sejak 15 November 1957, kota ini telah mulai mengoperasikan jalur subway pertamanya, yakni jalur Nagoya-Sakae. Kini, ia telah memiliki banyak jalur kereta listrik bawah tanah dengan panjang total 89 km yang mengangkut penumpang mencapai rata-rata 1.100.000 orang per hari.

Sementara sistem bus dalam kotanya yang telah beroperasi sejak 1 Februari 1930, kini telah memiliki panjang jalur 746 km hanya mengangkut sejumlah 318.000 orang per hari (data tahun fiskal 1 April 2004).


TransJakarta

Menurut Bambang, pemakaian bus sistem busway TransJakarta sudah tepat menuju kota hemat energi. Meski belum cukup mengalihkan penggunaan dari penggunaan mobil pribadi ke busway, namun arahnya sudah tepat.

"Indonesia bisa bercermin dari Curitiba, Brasil. Kota yang luas areanya 432 km2 dan jumlah penduduk 1,6 juta jiwa ini mengoperasikan 5 tipe angkutan bus dengan daya angkut hingga 270 penumpang," katanya.

Sebanyak 1.100 bus membuat 12.500 total perjalanan sehari dapat mengangkut sebanyak 1,3 juta penumpang per hari. Ini telah berhasil mengurangi ketergantungan warga kota pada mobil pribadi, dan meningkatkan penumpang hingga 50 kali lipat dibanding 20 tahun sebelumnya.

Penduduk pun hanya mengeluarkan 10 persen dari pendapatan tahunan mereka untuk belanja transportasi. Bandingkan dengan di Jakarta, yang sebelumnya 15 persen, kini diperkirakan mencapai 20 persen pascakenaikan BBM per 1 Oktober 2005 yang lalu.


Jalur Sepeda

Lebih dari itu, Curitiba juga mampu menurunkan konsumsi BBM per kapita penduduk rata-rata hingga 30 persen lebih rendah dibandingkan dengan delapan kota lainnya di Brasil. Tak heran jika ia disebut-sebut juga sebagai salah satu kota dengan tingkat polusi terendah di dunia.

Sukses lain dari Jepang adalah tersedianya jalur sepeda dan pejalan kaki (pedestrian) yang aman dan nyaman. Bersepeda dan berjalan kaki adalah salah satu alternatif moda perjalanan yang paling mungkin untuk menghemat energi di kota.

Keduanya sudah tentu merupakan moda transportasi yang tidak bermotor (non-motorized transportation atau NMT) sehingga tidak membutuhkan BBM sama sekali. Oleh karenanya, juga tidak menghasilkan polusi bagi udara di kota (ramah lingkungan). Bersepeda maupun berjalan kaki, dapat dilakukan oleh siapa saja dari semua golongan, baik kaya atau miskin, tua atau muda.

Penggunaan sepeda di Jakarta masih sangat rendah. Sebagai gambaran, menurut Darmaningtyas melalui survey INSTRAN di akhir Juni 2005, dalam sehari jumlah sepeda yang melewati Jl Sudirman Jakarta dari arah Jalan Thamrin hanya 52 unit, sedangkan yang menuju ke arah Jl Thamrin hanya mencapai 122 unit. Mereka itu adalah para pedagang keliling, seperti siomay, bakso, dan roti. Terlalu minim pelajar dan pekerja kantoran yang bersepeda.

Kota-kota di Cina, seperti Tianjin dan Shenyang, menempati persentase terbesar, yakni 77 dan 65 persen penduduk yang mengendarai sepeda untuk perjalanan mereka. Sebagai gambaran, dari pemantauan lalu lintas di Kota Tianjin, konon lebih dari 50.000 sepeda melintas di satu persimpangan jalan dalam waktu satu jam.

Namun yang paling fenomenal dan menarik untuk dicermati adalah upaya yang dilakukan pemerintah Kota Bogota, Ibukota Colombia di Amerika Tengah. Untuk menghemat energi dan mengurangi polusi udara kota, Enrique Penalosa, Wali Kota Bogota tahun 1998-200, membangun jalur sepeda sepanjang 350 km. Ini merupakan kota yang memiliki jalur sepeda terpanjang di Amerika Latin maupun di kota-kota negara berkembang lainnya. Jalur-jalur sepeda dan pedestrian itu dibuat sangat kompak, menerus, dan terintegrasi, serta akses yang sangat luas hingga menembus berbagai kawasan pemukiman. (L-11)

Source:
SuaraPembaruan online
http://www.suarapembaruan.com/News/2005/11/24/
LSM Pelangi Jakarta
http://www.pelangi.or.id/othernews.php?nid=581